R.V is a film blog that is devoted in writing reviews, articles & essays about anything from Film Noir, Straight to Video Horrors to Grindhouse Exploitation films.
Follow our Twitter: @R_VIEWINGS
words.Rega
Hmmm, apa yang sebenarnya saya favoritkan dari film sineas Jepang? Sebuah musim panas yang membuatmu ingin mengulang masa sekolah lagi seperti yang Shinobu Yaguchi lakukan, atau sebuah lika liku ketersesatan pubersitas di dunia virtual sanity macam Serial Experiment Lain?
Confessions sendiri adalah film yang mencoba untuk memperlihatkan kehidupan remaja-remaja SMP yang baru mengenal teen angst and how good it feels to be angry with adults (masih ingat dengan masa-masa kita baru mengenal Slipknot ini?). Menceritakan seorang guru yang menjadi wali kelas di sebuah SMP. Setelah mendapati kematian putrinya satu-satunya, dia menyadari bahwa pelakunya adalah salah seorang (atau lebih) murid di kelasnya, dan memutuskan untuk mengambil tindakan balas dendam. Tidak, dia tidak memakai santet atau membunuh mereka satu persatu macam Battle Royale atau Death Bell, dia simply mengambil caranya sendiri demi mengajarkan bahwa ‘hey, life isn’t all about i hate myself and i want to die’. Oh yes, sensei, life is about getting your revenge and feeling good about it.
Mungkin untuk memberikan gambaran kasarnya, kita bisa mengambil Elephant milik Gus Van Sant sebagai similaritynya namun dengan narasi monolog yang lebih panjang dari dialog yang ada, plus bumbu ledakan-ledakan macam Kamen Rider Series pasca Agito. Dan tentu saja, yang membuat film ini menarik adalah perubahan emosi dan sikap tiap tokohnya setelah dihadapkan pada kepanikan bahwa kiamat dimajukan 2 tahun lebih cepat. Ingat, mereka masih duduk di bangku SMP, mereka bahkan mungkin baru menemukan the magic of hentai, porns and arcade games.
Pengambilan Confessions sebagai judulnya pun dikarenakan film ini sederhananya adalah paket dari pengakuan tokoh-tokohnya. Ya, film ini membenarkan sebuah perkataan lama: ‘hati manusia siapa yang tahu?’. DUH.
Best part dari film ini? Mengesampingkan karena saya memang suka drama mini kiamat yang memprimitifkan kembali manusia berkebudayaan peradaban maju, mereka berhasil memberikan gambaran bahwa bullying is the best thing happens in junior high school life. Rasa senang dan puas ketika melihat orang yang tidak kalian sukai menderita? Rasa superior ketika kalian berada di jumlah yang besar dan bisa melampiaskan rasa kesal ke satu oknum minoritas? Kalau kalian tidak tahu rasanya berada di kursi korban, then this movie simply isn’t for you.
OH. AND THEY PLAYED SUPERCAR FOR THEIR LAST SCENE. GOOD LORD.
words.RR
Coba kalian bayangkan, mahluk apa yang paling menggelikan/menjijikan yang pernah menjadi karakter sebuah film horror? Ular? Di film Rattlers sosok ular malah terlihat lucu. Laba - laba? Mereka malah tampak sangat keren di Tarantula! Cacing? Pernah menonton Tremors atau Mongolian Death Worms? Mereka terlihat gagah bukan! Tapi tunggu, itu bukan cacing tanah yang berlendir dan eewww grossy. Lalu memang ada film horror yang berkisar tentang cacing tanah? Tentu (mengingat bahkan ban mobil pun bisa dijadikan sebuah karakter film horror), dan film ini menjadi salah satu film horror paling gross yang pernah saya tonton sepanjang saya hidup. Kenapa saya bisa bilang film ini sebagai film paling gross adalah karena film ini sama sekali tidak menggunakan CG atau bahkan sekedar fake-worms untuk menampilkan karakternya. Yep film ini menggunakan cacing nyata, dan yang akan kamu saksikan sepanjang film adalah 1 ton cacing yang memenuhi layar kalian. Cut the crap, worship this magnificent 70’s low-budget horror film; Squirm!
Sebenarnya untuk membahas hampir keseluruhan isi dari film Squirm ini saya hanya memerlukan 4 aspek, Worms, Alabama’s accent, glorifikasi 70’s exploitation, dan Rick Baker! Tentu, berbicara tentang Squirm dan korelasinya dengan segala macam film - film exploitation-nature-strikes-back-low-budget tidak akan pernah jauh dari ketololan yang fun. Sutradara Jeff Lieberman tau percis apa yang harus dia lakukan untuk menghibur para penonton genre, maka film ini pun dimulai dengan menceritakan sinopsis nya terlebih dahulu di opening-scene. Ya, percis seperti apa yang Tobe Hooper lakukan di Texas Chainsaw Massacre. Dibuka dengan scene thunderstorm yang membuat satu kota Fly Creek porak poranda yang juga mengakibatkan beberapa sutet rubuh terjatuh dan memberikan gelombang elektrik di tanah (dan saya yakin scene ini memakan budget paling besar dari keseluruhan bagian film, oh mungkin terbesar kedua setelah mengingat bill untuk membeli cacing hidup menempati posisi pertama). Ternyata efek dari sutet dan elektrik di tanah tadi mengakibatkan koloni cacing cacing bawah tanah ini mempertanyakan eksistensi mereka, dalam kata lain, mereka muncul ke permukaan dan menyerang manusia dengan menghisap darah dan berjalan dibawah lapisan kulit! Yep, theyre bloodthirsty gory killing machine worms. Jangan tanya, kenapa mereka bisa jadi bloodthirsty, tiga kali menonton film ini pun saya tidak bisa menjawabnya. Pasalnya, mereka tidak seperti lintah. Tapi siapa peduli, yang jelas cacing cacing ini begitu agresifnya sehingga membuat kalian semua merasa geli ketika menonton film ini. Dan, ketika cacing cacing ini mulai menyerang dan memberikan kita tontonan kepanikan orang akan serangan ribuan cacing disitu pula kita tidak lagi membutuhkan plot atau cerita dari film ini. Bloooods and wooorrrmmms everywhereee!
Jadi dengan pemilihan cacing cacing hidup sebagai pengganti efek ledak murahan, Jeff Lieberman berhasil membuat sebuah film cult monumental pada tahun 1976. Film ini cukup shocking dimasanya, dan ya seperti saya bilang tadi Rick Baker ambil alih di bagian visual effect yang membuat film ini cukup punya eksekusi menarik dari setiap gory scene-nya. Ah another great 70’s grindhouse flick! Mulai sekarang jauhi kamar mandimu, karena mungkin akan ada ribuan bloodsucking worm di balik lantai lantai kamar mandimu. Ha!
>
words.AKMister Lonely (2007) Dir. Harmony Korine
words.AKLa Haine (1995) Dir. Mathieu Kassovitz
words.AK
Founder, Runme dan Run Run Shaw mendirikan Studio Shaw Brothers, sebuah studio film yang berbasis di Hong Kong dan juga merupaka perusahaan distribusi yang besar. Mereka memasuki bisnis di industri film di Singapore pada tahun 1920-1930 untuk membuat film-film berbujet mikro untuk target audience orang-orang Malaysia. Di akhir tahun 1950an, perusahaan yang tadinya hanya mencari target market niche ini berevolusi menjadi Shaw Brothers Ltd yang memiliki backlot yang besar dan membuat ratusan film-film silat, wire-fu dan genre lainnya selama dua dekade terakhir, secara efektif menciptakan pasar baru dan menjadi blueprint untuk sinema Hong Kong. Jika kamu ke Singapore, kamu bahkan bisa melihat logo besar Shaw Brothers di bioskop mereka. Logo unik mereka, agak mengingatkan saya pada logo Warner Bros.
words.AK Sebuah filmmaking complex yang ditemukan oleh Benito Mussolini pada tahun 1937, terletak diluar kota Roma. DI tempat inilah Felinni menshoot film-filmnya. Studio-studio di AS yang menginginkan ongkos produksi murah biasanya melakukan syuting disini. Setelah hampir bangkrut pada tahun 1980, pemerintahan Itali akhirnya mengambil alih studio ini dan melakukan privatisasi. La Dolce Vita dan Satyricon milik Fellini di-shoot disini. Begitu pula dengan Ben Hur, Gangs of New York milik Scorsese, dan terakhir Life Aquatic milik Wes Anderson. Cinecittà (Studios)
words.AK
A dystopia is a fictional society that is the antithesis of utopia. characterized by an oppressive social control. it’s an imaginary place or state in which the condition of life is extremely bad: deprivation, oppression, or terror. also: massive dehumanization, totalitarian government, rampant disease, post-apocalyptic terrains, post-natural disaster, cyber-genetic technologies, societal chaos and widespread urban violence. these are some of the common themes in dystopian films, which often construct a fictional universe and set it in a background which features scenarios such as dehumanizing technological advancements, man-made disasters or class-based revolutions.
Nowadays, watching these types of flicks can remind you of something. The Present condition that we’re living? Are we speeding into the uncertainty of a dark future for mankind? Are we living in a dystopian society? Maybe. The future is now.
Here are some of my top 10 & honorable mentions of dystopian films. For a comple list and reviews, see our other post: TOP 30 DYSTOPIAN FILMS.
words.AK Pada tahun 1930 ada insiden yang membuat seluruh warga Jepang terperangah. Insiden mengenai Sada Abe ini akhirnya difilmkan dan setelah dirilis di tahun ‘70an oleh rumah produksi Perancis-Jepang, akhirnya menuai kontroversi. Didalamnya terdapat adegan seks yang diperankan secara aktual oleh aktris dan aktornya. Terdapat juga shot-shot vulgar, adegan penetrasi dan S&M. Tetapi ditangan Nagisah Oshima, ini tidak menjadi film porno, melainkan sebuah arthouse film dengan studi karakter yang menarik. In the end, para film snob bisa saja beralasan untuk menonton adegan seks secara terbuka di festival Cannes atas alasan “study of desire”. Film ini bercerita tentang relationship Sada dan Kichizo, yang awalnya hanya saling menyukai, hingga pada akhirnya menjadi obsesi yang berbahaya. Untuk kamu-kamu yang menyukai skin-flick seperti Nine Songs-nya Michael Winterbottom atau En La Cama, saya sangat merekomendasikan yang satu ini. Sinematografi yang fantastis, akting prima dan skrip yang bisa dipertanggungjawabkan. And i haven’t said a word about the ending. Yet. Saya tidak akan menulis spoiler kok. Bam! There’s just simply no other films with endings like Ai No Corrida. Touché!Ai no corrida (1976) Dir. Nagisah Oshima
words.AK
Dario Argento adalah seorang sutradara legendaris asal Italia, seorang screenwriter, musisi dan produser. Film-film Dario Argento benar-benar pushing the boundaries of human violence. Hanya di film-film dia kita bisa melihat tusukan pisau yang sejati menembus leher, tombak yang masuk ke genitalia perempuan dan usus sang korban yang dipakai mencekik korban itu sendiri. Tapi dengan kekejaman yang cenderung over-the-topitu, kadang tidak menjadi menyeramkan atau menjijikan, bahkan anehnya, cenderung lucu. Tapi tidak.. Argento tidak pernah bercanda dalam membuat sebuah karya sinematik.
Fase penyutradaan Argento menurut saya terbagi 2, yaitu fase-fase awal yaitu Giallo (film slasher Itali murahan) dan era-era supernatural horrornya. Film-film Giallo Argento meraih simpati para penggemar film pembunuhan yang sadis pada masa itu, yang cukup dikenal adalah: The Cat o’ Nine Tails (1971), Four Flies on Grey Velvet (1972) dan tentu saja The Bird with the Crystal Plumage.
Fase-fase supernatural horrornya tentu saja sangat dikenal lewat trilogi Three Mothers, yang menceritakan 3 penyihir terkuat yang memang masuk ke buku sejarah: Suspiria (1977), Inferno (1980) dan yang paling sadis, Mother Of Tears (2007). Suspiria bahkan sempat masuk mejadi film paling mengerikan versi beberapa majalah film di seluruh dunia. Kombinasi dari visual yang keren, kolaborasi musik antara Argento dan Goblin yang mengisi score, dan tentunya naskah yang baik. Film-film Argento sangat esensial untuk para gore snobs. Sebut saja nama-nama sutradara film horror/slasher kontemporer seperti Stephen King, John Carpenter, et al. Mereka semua terinspirasi oleh karya-karya sinematik Dario Argento. Dan anaknya, Asia Argento, juga seksi. Pfftt.
words.AK
Tidak, saya tidak membicarakan lagu “Femme Fatale” karya Lou Reed yang dinyanyikan oleh Nico di album Velvet Underground & Nico.
Dames and divas. Danger and desire. Secara tipikal, femme fatale adalah sebuah simbol dan katalis. Untuk para wanita yang memiliki agenda rahasia dan berpura-pura menjadi damsel-in-distress bagi para protagonis di sebuah cerita crime story yang biasa kita kenal dengan film-noir. Sharon Stone di Basic Instinct adalah femme fatale. Jean Seberg di À Bout De Souffle adalah femme fatale. Kim Basinger di LA Confidential adalah femme fatale. Dan tentunya Rebecca Romjin-Stamos dalam film Femme Fatale adalah seorang femme fatale.
Para perempuan ini hidup dalam gelapnya malam. Mereka seduktif: seperti pisau bermata dua, dan tentunya, putus asa. Dan itu semua adalah elemen yang baik untuk sebuah narasi film noir yang kompleks. Para fatalis ini termasuk: Jane Greer, Barbara Stanwyck, Ida Lupino, Marilyn Monroe, Rita Hayworth dan Veronica Lake. Mungkinkah perang dunia ke-2 yang membuat para wanita ini menjadi fatalis? Karena kita banyak melihat pengembangan karakter mereka di film noir era ini. Perang dunia ke-2 juga mungkin menjadikan para perempuan ini menjadi sosok independen yang struggle to survive, apalagi setelah mereka merdeka secara finansial. Ide femme fatale ini juga menantang konsepsi dunia perfilman AS, terutama Hollywood tentang wanita.
Femme fatale bisa berupa sosok penyanyi di klab malam sampai seorang istri yang selingkuh yang mengkhianati suaminya. Mereka adalah para feminis yang memiliki identitas ganda, dimana agenda tersembunyi dan pengkhianatan adalah filosofi hidupnya. The Woman In The Window (1945) mengekspos stereotip wanita yang juga berfungsi sebagai fantasi para pria. Kapasitas para fatalis ini untuk menciptakan kekacauan dan masalah juga tidak perlu diragukan lagi. “Dengan cahaya redup di ruang interogasi, wanita itu mengambil sebatang rokok dari tasnya, dan para lelaki berhamburan untuk menyalakannya. As she puffs away and smokes the ciggies, you’ve just stumbled into a world of deadly intrigues in the form of the most destructive seduction..”